Antaradaily.com, Jakarta: Pemerintah belum merasa perlu menetapkan lockdown sebagai opsi pencegahan dan penghentian penyebaran virus Corona (Covid-19). Hal itu disampaikan juru bicara pemerintah untuk penanganan wabah Corona Achmad Yurianto, menanggapi terjadinya lonjakan jumlah pasien positif terinfeksi Corona yang mencapai 117 kasus per hari Minggu (15/3/2020).

Baca Juga: Pasien Positif Corona Bertambah 21 Orang, Total Jadi 117 Kasus

Yurianto mengatakan dasar alasan belum perlu menerapkan lockdown dengan merujuk pada bukti empiris yang dialami oleh Korea Selatan saat menetapkan opsi lockdown dan tidak lockdown.

Ia mengatakan bahwa di Korea Selatan setelah memutuskan lockdown kasus Covid-19 justru mengakibatkan penyebarab menjadi tak terkendali. Berbeda pada saat lockdown dicabut jumlah kasusnya mengalami penurunan.

“Kami belum menempatkan opsi lockdown, karena mengacu pada kasus Korea Selatan setelah memutuskan lockdown, kasusnya jadi tidak terkendali dan sekarang dibuka lagi (lockdown dicabut) kasusnya turun,” kata Achmad Yurianto, pada Konferensi Pers di Komplek Istana Negara, sebagaimana dinukil dari laman sehatnegeriku.kemkes.go.id, Minggu (15/3/2020) siang.

Yurianto mengingatkan, bahwa pemerintah tidak akan menutup suatu daerah dan membiarkan daerah itu mengalami penularan sampai habis. Ia mencontohkan pada opsi lockdown kapal pesiar Diamond Princess beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Virus Corona Infeksi 44 Orang Lagi di Kapal Pesiar Diamond Princess Jepang

“Yang harus kita lakukan adalah segara mencari sumber penularan dan isolasi. Kalau ini jadi kemungkinan lockdown, ingat Diamond Princess ketika di-lockdown kasus nya bertambah bahkan sampai 20%,” tegasnya.

Baca Juga: 9 ABK Diamond Princess Sembuh Pascaperawatan di Jepang, 5 Orang Sudah Pulang ke Tanah Air

Oleh karena itu, yang sambung Yurianto, harus dilakukan adalah bukan opsi lockdown. Ia merinci langkah yang harus dilakukan adalah pertama melakukan social distance atau membatasi semuanya, membatasi aktivitas diri dan juga aktivitas masyarakat.

“Hal ini bukan dalam konteks membelenggu, melainkan masyarakat harus dapat memilih aktivitas yang penting untuk dihadiri,” terang dia.

Selain itu, Yurianto juga menyebut keputusan lockdown adalah keputusan pemerintah dengan memikirkan banyak aspek.

“Apakah dengan lockdown menyelesaikan masalah atau menimbulkan masalah baru. Kita gak latah, kita punya kehormatan sendiri. Kita merdeka, karena di sini banyak ahli yang ikut mempertimbangkan tanpa kepanikan,” pungkas Yurianto.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here