Antaradaily.com, Jakarta: Sejak merebaknya pandemik COVID-19 akhir Desember 2019 di Provinsi Hubei, China, virus ini telah menyebar ke paling sedikitnya 118 negara dan teritori, mengakibatkan kematikan lebih dari 5.800 orang di seluruh dunia.

Butuh waktu sekitar 3 minggu sejak otoritas di China memberikan peringatan kepada WHO terhadap penemuan jenis penyakit pnemonia baru, hingga diambilnya tindakan penutupan total (lockdown) kota-kota besar di China.

Berbulan-bulan pemerintah Indonesia menyangkal akan kemungkinan adanya wabah Coronavirus.

“Coba kalau ada, dimana itu virus Corona. Itu kan cuma orang mau bikin isu. Tidak (ada virus corona di Indonesia) sampai hari ini ya. Saya tidak tahu kalau sampai besok tapi sampai hari ini tidak. Sampai hari ini Indonesia masih zero corona,” tegas Menko Polhukam Mahfud Md di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Sabtu (29/2/2020).

Bahkan Wapres KH. Ma’ruf Amin juga mengatakan bahwa virus Corona tidak masuk ke Indonesia berkat doa para kiai, berkat istigashah, saat membuka Kongres Umat Islam Indonesia ke VII di Bangka Belitung, Sabtu (29/2/2020).

Sebelumnya Menkes Terawan justru menantang penelitian dari Harvard T. H. Chan School of Public Health yang dipublikasikan pada tanggal 4 Februari 2020 yang mengatakan bahwa Indonesia seharusnya sudah menemukan kasus terkonfirmasi positif Coronavirus, mengingat tingginya jalur perjalanan dari Wuhan ke Indonesia.

Setelah pejabat-pejabat negara ini sibuk menganggap remeh penyebaran Coronavirus, bahkan memberikan stimulus agar tempat-tempat wisata tetap dikunjungi wisatawan, akhirnya 2 kasus terkonfirmasi positif pada tanggal 2 Maret 2020. Dan hingga saat ini per Minggu (15/3/2020) sudah terkonfirmasi 117 kasus termasuk Menhub Budi Karya Sumadi, yang merupakan pasien kasus 76. Menkes Terawan telah menyia-nyiakan waktu yang berharga dimana negara dapat melakukan intervensi agar kurva penyebaran Coronavirus ini bisa diperlambat.

Salah satu pasien, seorang pegawai PT Telkom yang dirawat di RSDH Cianjur yang diduga terinfeksi Corona meninggal pada 3 Maret 2020. Saat itu Kemenkes mengatakan bahwa pasien tersebut negatif Corona, tetapi dari konferensi pers Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil 15 Maret 2020, informasi terakhir yang bersangkutan ternyata positif Corona. Ini artinya Kemenkes telah melakukan pembohongan publik, menimbulkan ketidakpercayaan kepada kemampuan pemerintah untuk mengatasi wabah ini. 

Bandingkan dengan negara lain seperti Korea Selatan dan Singapura, yang melakukan tes secara masif, pembukaan data yang transparan (kecuali identitas pasien), sehingga tindakan isolasi dapat dilakukan dengan efektif.

Negara-negara lain juga sudah memberlakukan social distancing untuk memperlambat meluasnya wabah coronavirus juga. Sedangkan di Indonesia kita masih santai-santai saja. 

Jadi, apa yang harus dilakukan oleh pemerintah? Pertama-tama, lakukan tes secara masif, kontak tracing yang transparan dan menghimbau warga untuk menerapkan social distancing. Kedua, siapkan infrastruktur IGD, ventilator, dll agar nantinya sistem kesehatan kita tidak kewalahan. Ketiga, minta bantuan tenaga medis dari luar negeri jika diperlukan. Tidak perlu malu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here