Antaradaily.com, Jakarta: Semasa dalam pelarian di Singapura, Tan Malaka menulis risalah yang menggambarkan keterjajahan negerinya. Tan menyusun propaganda untuk mencapai kemerdekaan yang diiringi dengan gerakan aksi revolusi. Namun untuk menuju cita-cita merdeka itu, Tan menyatakan kegelisahan sehubungan dengan pola pikir kaum sebangsanya.

“Tetapi kamu orang Indonesia yang 55.000.000 tak kan mungkin merdeka selama kamu belum menghapuskan segala ‘kotoran kesaktian’ itu dari kepalamu, selama kamu masih memuja kebudayaan kuno yang penuh dengan kepasifan, membatu, dan selama kamu bersemangat budak belia,” kata Tan Malaka dalam risalahnya yang terbit pada 1926 berjudul Massa Actie.

Apa yang dimaksud Tan dengan “kotoran kesaktian”? Secara gamblang Tan menyebutnya dengan berbagai macam takhayul dan kepercayaan kepada hantu, jin, kesaktian gaib, batu keramat, dan lain-lain. Dengan kata lain, segala hal yang berhubungan dengan mistik atau klenik. Inilah yang menurutnya jadi penghambat kemerdekaan bangsa Indonesia.  Tan tidak membatasi merdeka dalam pengertian mengusir Belanda, namun merdeka juga menyangkut logika berpikir.

Tan menilai masyarakat Indonesia, terutama di Jawa masih mempercayai yang gaib-gaib, takhayul, dan dongeng sebagai akibat dari mental feodal yang mendarah daging. Bagi Tan, cara bernalar demikian sama artinya dengan bermain api. Tangan sendiri yang akan terbakar. Itulah sebabnya Tan sangat anti-feodalisme karena –meminjam penafsiran budayawan Romo Mudji Sutrisno– feodalisme telah melahirkan dan menyuburkan mental budak; mental kuli anak negeri yang takut berpikir, pasif dan menyerah pada nasib.

“Mentalitas macam ini memudahkan mereka percaya pada takhayul sehingga gampang dimalipulasi mereka yang rasional dan pintar,” tulis Romo Mudji dalam “Sukarno-Hatta-Syahrir-Tan Malaka dalam Dialog: Keindonesiaan Macam Apa yang Masih Harus Diperjuangkan?” termuat di kumpulan tulisan Sejarah Filsafat Nusantara, Alam Pikiran Indonesia.

PENGIKUT TAN MALAKA

Sementara itu, menurut sejarawan milenial Servulus Erlan de Robert, takhayul dan klenik menjadi tradisi keseharian masyarakat Indonesia ketika Tan memperjuangkan kemerdekaan. Masyakat cenderung menaruh harapan untuk merdeka pada sosok sang penyelamat Ratu Adil yang dijanjikan akan datang. Selama menanti, mereka berpasrah dan membudak pada kaum kolonial dan kaum feodal. Sikap pasif menantikan sang pembebas ini malah jadi jebakan di jalan menuju kemerdekaan.

“Sebab, dengan demikian mereka hanya akan tunduk pasrah pada kolonialisme Belanda dan feodalisme yang dipraktikkan oleh para penguasa lokal. Pola pikir seperti itulah yang dilawan Tan,” kata Erlan dalam “Tan Malaka: Dari Logika Mistika ke Bangsa Merdeka” termuat dikumpulan tulisan Memoria Indonesia Bergerak suntingan Johanes Supriyono.

Hubungan antara agenda memerdekakan Indonesia yang mandeg dengan cara pikir magis masyarakat dikupas Tan Malaka dalam  “logika mistika”. Istilah ini merupakan bab pertama dari karya monumental Tan Malaka berjudul Madilog yang terbit pada 1943. Tan membuka logika mistika dengan uraian tentang muasal bumi beserta isinya yang bermula dari sabda dewa Rah. Dalam mukadimah itu, Tan menyelipkan kritik. Analogi ini bisa diartikan sebagai sikap masyarakat Indonesia yang menganggap hanya dengan berdoa kemerdekaan dapat tercapai.

Dalam logika mistika, Tan menganalisis cara berpikir irasional dan memperlihatkan kekurangan-kekurangannya di hadapan cara berpikir rasional. Tan menerangkan, “Lapar tak berarti kenyang buat si miskin. Si Lapar yang kurus kering tak akan bisa kita kenyangkan dengan kata kenyang saja, walaupun kita ulang 1001 kali”.

Pun demikian halnya dengan kemerdekaan yang bagi Tan tidak cukup hanya menanti Ratu Adil belaka melainkan dengan menggalang revolusi total. Langkah pertamanya adalah dengan membebaskan logika mistika yang gentayangan dalam rupa kemalasan berpikir, mental jongos, dan sikap pasrah. Untuk mencelikan mata terhadap ketertindasan sekaligus membangun kesadaran kelas, Tan menekankan pentingnya pendidikan berdasar pada logika ilmu pasti. Upaya pencerdasan itu dilakoni Tan ketika dirinya menyelesaikan studi dari negeri Belanda.

Pada 1919, Tan yang membawa pulang ijazah tamatan Kweekschool (sekolah guru pribumi) menjadi guru bagi anak-anak kuli perkebunan di Sanembah, Tanjung Morawa, Sumatra Timur. Sembari mengajar, Tan menulis propaganda subversif untuk para kuli. Sewaktu hijrah ke Jawa pada 1921, Tan juga tetap menggiatkan misi pendidikannya. Tan mendirikan Sekolah Sarekat Islam di Semarang untuk menandingi sekolah yang dibuka pemerintah kolonial.

Dalam imajinya, Tan membayangkan pendidikan akan melahirkan kaum pribumi yang tercerahkan. Tidak sekedar mencetak manusia pandai tapi juga berjiwa merdeka dan peduli nasib rakyat. Merekalah yang diharapkan Tan tumbuh sebagai kekuatan perlawanan yang lebih besar terhadap penjajah. Ketika kondisi itu terwujud, revolusi menuju kemerdekaan bisa dilakukan.   

Bangsa yang cara bernalarnya sesat, sulit untuk merdeka. Begitulah Tan punya keyakinan. Maka, untuk merdeka, cara bernalar kaum sebangsanya harus dibetulkan terlebih dahulu. Sebagaimana Tan menuliskannya dalam Massa Actie, “Hanya cara berpikir dan bekerja yang rasional yang dapat membawa manusia dari ketakhayulan, kelaparan, wabah penyakit dan perbudakan, menuju kepada kebenaran.”

Oleh: Martin Sitompul

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here