Antaradaily.com, Jakarta: Nilai tukar rupiah bergerak naik turun antara penguatan dan pelemahan pada perdagangan hari ini, Kamis (4/6/2020), setelah sempat menguat sangat tajam pada perdagangan Rabu (3/5/2020) melawan dolar Amerika Serikat (AS, menempel di level psikologis Rp. 14.000/ dolar AS. Bahkan saking “menggilanya”, mata uang Asia hingga mata uang Eropa semua dilibas oleh rupiah.

Sentimen pelaku pasar yang sedang bagus merespon keputusan menjelang diberlakukannya new normal, menjadi penopang penguatan rupiah. Penguatan rupiah yang sangat tajam tersebut, sempat memicu aksi ambil untung (profit taking).

Namun pada perdagangan hari ini, Kamis (4/6/2020) pagi, nilai tukar rupiah bergerak maju-mundur antara penguatan dan pelemahan. Mengutip data dari Refinitiv, rupiah langsung melemah 0,36% ke Rp. 14.100/ dolar AS, kemudian berbalik menguat 0,14% ke Rp. 14.030/ dolar AS. Setelahnya rupiah naik turun menguat melemah bergantian beberapa saat, sebelum akhirnya stabil di zona merah.

Penguatan tajam rupiah 2 hari terakhir dipicu aliran modal ke dalam negeri (capital inflow) yang besar. Derasnya aliran modal ke dalam negeri terlihat dari lelang obligasi atau Surat Berharga Negara (SBN) pada Rabu (3/6/2020) kemarin, yang penawarannya mencapai Rp. 105,3 triliun. Ada 7 seri SBN yang dilelang, dengan target indikatif pemerintah sebesar 20 triliun dolar AS, yang artinya terjadi kelebihan permintaan 5,2 kali.

Bank Indonesia mengatakan nilai tukar rupiah terus menguat sebagai dampak positif dari eratnya sinergi dan koordinasi dengan pemerintah dan juga Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam upaya memulihkan perekonomian nasional. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan sinergi yang kuat tersebut merupakan komitmen untuk bersama-sama mendukung pemulihan ekonomi.

“Seluruh kebijakan Bank Indonesia kami arahkan untuk mendukung keberlangsungan proses pemulihan ekonomi,” kata Perry dalam konferensi pers via video teleconference, Rabu (3/6/2020).

Perry mengatakan nilai tukar rupiah saat ini berada pada kisaran Rp. 14.142 per dolar AS, setelah pada awal April lalu sempat berada pada level Rp16.400 per dolar AS.

“Tentu saja kami juga masih melihat peluang ke depan untuk nilai tukar rupiah yang menguat karena koordinasi yang erat antara kebijakan fiskal moneter maupun juga di bidang sektor keuangan,” kata Perry.

Dia mengatakan koordinasi tersebut membuat kepercayaan pasar dan investor dalam dan luar negeri terhadap perekonomian nasional semakin menguat.

“Tahap-tahap stabilisasi dari ekonomi khususnya stabilisasi pasar keuangan alhamdulillah berjalan sangat baik,” lanjut dia.

Selain itu, Perry mengatakan inflasi juga terjaga rendah 2,19 persen karena koordinasi yang erat antara pemerintah dan Bank Indonesia. Kemudian imbal hasil (yield) SBN yang sempat berada di atas 8 persen, kini sudah turun menjadi 7,2 persen.

“Begitu pun juga dengan cadangan devisa kami yang terus meningkat dan pada 8 Juni nanti akan diumumkan posisi per akhir Mei,” ujar Perry.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here