Antaradaily.com, San Diego: Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI menuturkan enam perwakilan RI di Amerika Serikat (AS) sedang menelusuri kebenaran laporan terkait dugaan seorang warga Indonesia yang mendapatkan perundungan dari warga kulit putih di kota San Diego, AS.

“Untuk saat ini, semua perwakilan RI di AS tengah bekerja sama dengan komunitas masyarakat Indonesia untuk mendalami dan mencari konfirmasi kasus ini,” kata Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kemlu RI, Judha Nugraha, melalui pesan singkat pada Senin (8/6/2020), sebagaimana dinukil dari cnnindonesia.com.

Pernyataan itu diutarakan Judha menyusul laporan bahwa seorang WNI yang disebut mahasiswa Indonesia di AS diganggu oleh warga lokal kulit putih dan berbuntut perkelahian di tengah jalan. Diduga perundungan itu disebabkan oleh sikap rasialis oleh warga lokal tersebut.

Dalam video yang disebar di media sosial Twitter oleh akun @Hustle_NBA memperlihatkan seorang pria warga kulit mengintimidasi seorang laki-laki berwajah Asia di tengah jalanan San Diego. Buntutnya, keduanya terlibat perkelahian di depan dua mobil yang lantas berhenti saat keduanya berada di zona zebra cross.

Meski begitu, belum bisa dipastikan apakah laki-laki korban perundungan itu merupakan WNI atau bukan. Namun, pada detik 0:51 pada video berdurasi 0:54 itu, terdengar laki-laki yang mendapatkan penyerangan berbicara bahasa Indonesia “ngga bisa diem nih” saat akhirnya terpaksa melawan balik dan berhasil meng-KO pengganggunya hingga terjatuh ke aspal.

Sejumlah warganet turut mengomentari video tersebut, dan cenderung mendukung laki-laki yang diganggu tersebut. Terutama karena sedari awal laki-laki berwajah Asia itu tidak mau melawan sampai akhirnya terdesak membela diri dan justru ikut membangunkan pengganggunya setelah pingsan terkena bogem mentahnya.

Korban membantu membangunkan sang perundung yang berhasil dihempaskannya ke aspal (Foto: Istimewa/ Twitter @Hustle_NBA)

Laporan serangan tersebut muncul ketika AS masih dirundung demonstrasi besar anti-rasisme selama dua pekan terakhir. Unjuk rasa itu dipicu oleh kematian warga kulit hitam, George Floyd, pada 27 Mei lalu. George Floyd tewas karena kehabisan nafas akibat tercekik lehernya oleh tekanan lutut polisi selama kurang lebih 8 menit.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here