Antaradaily.com, Jakarta: Sejumlah pusat bisnis dan perkantoran di DKI Jakarta kembali beroperasi mulai sejak Senin (8/6/2020), setelah hampir tiga bulan harus melakukan kerja dari rumah (work from home – WFH) akibat penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) untuk pencegahan penyebaran pandemi Coronavirus (Covid-19).

Geliat pergerakan para pekerja di ibu kota dan wilayah-wilayah penyangga (Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) terlihat dari meningkatnya jumlah pengguna transportasi publik dan bertambah padatnya sejumlah ruas jalan oleh kendaraan pribadi seiring diterapkannya masa PSBB transisi.

Namun akibat penerapan protokol kesehatan yang berdampak pada pembatasan kapasitas tampung atau angkut moda transportasi publik, menyebabkan terjadinya sejumlah peristiwa penumpukan atau kerumunan massa yang mengabaikan imbauan jaga jarak (physical distancing) pada saat harus mengantre masuk stasiun kereta atau halte bus.

Contoh kasus sebagaimana yang terjadi Senin (8/6/2020) petang saat jam pulang di Stasiun KRL Juanda pada pukul 07.29 WIB. Pada video yang dibagikan di Twitter oleh akun @RezaSF99, terlihat penumpukan penumpang yang memaksakan diri berjejalan tanpa menjaga jarak saat berusaha masuk ke dalam peron stasiun.

Suasana berdesak-desakan itu pun tak mampu dicegah dan dikendalikan oleh sejumlah petugas yang ada di lokasi. Calon penumpang saling mendorong untuk bisa segera melewati gate dan masuk ke peron untuk menunggu kereta.

PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) mencatat jumlah pengguna KRL meningkat menjadi sekitar 287 ribu orang pada Senin (8/6/2020). Menurut Vice President Corporate Communication PT KCI Anne Purba, jumlah tersebut meningkat dibandingkan saat PSBB masih berlaku penuh, yakni 180 ribu hingga 200 ribu penumpang per hari. Sementara pada Senin pagi saja, jumlah penumpang yang terangkut KRL sudah mencapai lebih dari 150 ribu penumpang.

Baca Juga: Hari Pertama PSBB Transisi, KRL Angkut 150 Ribu Penumpang

“Antrean pengguna terjadi di sejumlah stasiun yang menjadi lokasi pemberangkatan pengguna untuk jam sibuk sore hari misalnya Stasiun Tanah Abang, Stasiun Jakarta Kota, dan Stasiun Juanda,” kata Anne melalui keterangan tertulis, Senin (8/6/202) malam.

Antrean tersebut terjadi lantaran PT KCI harus membatasi jumlah orang yang berada di dalam kereta hingga maksimal 74 orang per gerbong kereta. Di sisi lain, Anne mengatakan nampaknya perusahaan yang kembali bekerja belum mengatur pembagian jam kerja secara optimal sehingga penumpang menumpuk di jam-jam tertentu.

“Seluruhnya masih diminta untuk masuk kerja pada jam 8 hingga jam 9 pagi, dan pulang kerja pada jam 4 atau jam 5 sore. Padahal pengaturan jam kerja ini sangat penting terutama bagi mereka yang menggunakan transportasi publik pada masa PSBB transisi ini, karena pembatasan dari segi jam operasional maupun kapasitas pengguna masih berlaku,” papar Anne.

Selain itu, sejumlah ruas jalan di ibu kota juga kembali padat karena sebagian pekerja memilih menggunakan kendaraan pribadi ketimbang transportasi umum. Kemacetan terlihat pada Senin sore di Jalan Gatot Subroto menuju Cawang, seiring berlakunya PSBB transisi.

Sementara itu, kebijakan ganjil-genap yang sebelumnya dilaksanakan untuk menekan angka kemacetan belum berlaku kembali. Info terakhir dari Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Metro Jaya, peniadaan sistem ganjil genap kendaraan bermotor masih berlanjut atau diperpanjang hingga minggu kedua bulan Juni 2020.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here