Antaradaily.com, Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan terjadi deflasi sebesar 0,10 persen pada Juli berdasarkan survei indeks harga konsumen (IHK) di 90 kota. Kepala BPS Suhariyanto mengatakan deflasi tersebut membuat inflasi tahun kalender Januari-Juli sebesar 0,98 persen, sementara secara tahunan inflasi sebesar 1,54 persen.

“Dari 90 kota yang dipantau BPS, 61 kota mencatat deflasi dan 29 kota mengalami inflasi. Pada Juli 2020 terjadi deflasi 0,10 persen. Angka inflasi ini masih jauh di bawah posisi inflasi Juni 2019 sebesar 0,31 persen. Perkembangannya secara tahunan, pergerakan inflasi di Indonesia menurun, dari Juni 1,96 persen menjadi Juli 1,54 persen,” jelas Suhariyanto dalam konferensi pers secara video teleconference di Jakarta, Senin (3/8/2020).

Suhariyanto mengatakan deflasi tertinggi terjadi di Kota Manokwari, Papua Barat, sebesar 1,09 persen akibat penurunan harga komoditas pangan seperti bawang merah dan bawang putih. Sementara deflasi terendah sebesar 0,01 persen terjadi di Gunung Sitoli (Sumut), Bogor dan Bekasi (Jabar), Luwuk (Sulteng), dan Bulukumba (Sulsel).

“Sementara itu, inflasi tertinggi terjadi di Timika (Papua) sebesar 1,45 persen karena kenaikan tarif angkutan udara, serta inflasi terendah di Banyuwangi dan Jember (Jatim) 0,01 persen,” tambah Suhariyanto.

Suhariyanto juga mengatakan bahwa saat ini perkembangan ekonomi global masih penuh ketidakpastian sehingga setiap negara mengutamakan keselamatan warga dan mengupayakan denyut ekonomi tetap bergerak.

“Bukan persoalan mudah menjaga keseimbangan,” ungkapnya.

Kondisi tersebut, sambung Suhariyanto, membuat pertumbuhan ekonomi di banyak negara melambat dan bahkan kontraksi. Hal itu diperparah terjadinya eskalasi ketegangan antara AS dan China serta fluktuasi harga komoditas, sehingga membuat inflasi di berbagai negara melambat dan mengarah pada deflasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here